Aku Bukan Dugong!
APA salahnya punya rumah di tepi pantai? Apa salahnya jika ibu dan bapakku seorang nelayan? Manusia itu ya, suka sekali mencari masalah seolah mereka akan mati bilamana berhenti. Memang, apa yang salah denganku? Aku cuma penyair biasa yang suka ikut kompetisi unjuk bakat di atas panggung. Juri bilang, syair-syairku indah bak nyanyian putri duyung, tetapi kontestan lain selalu membalas,
"Putri Duyung apanya? Dugong itu."
Kupikir, kasihan sekali dugong ini, selalu disalahkan.
Dalam dunia syair yang kutekuni ini, banyak sekali pujangga bermuka dua. Cara bicaranya sih sangat sopan, tapi dibelakang, kau akan disindir habis-habisan melalui puisi dengan berpuluh-puluh diksi ribet buatannya yang bahkan warga lokal saja belum tentu mengerti.
Disaat yang lain memiliki aliansi, aku hanya berdiri sendiri. Celingak-celinguk pun tak ada gunanya karena tidak ada yang mau beraliansi dengan dugong satu ini. Tapi, yah, sudah biasa. Sendiri pun aku bisa. Aku merantau dari kota ke kota untuk mengembangkan keterampilanku sebagai pujangga amatiran. Biarlah amatir, yang penting namaku dikenal ... walaupun dijelek-jelekkan oleh sesama penyair.
Hampir setiap hari aku mengelilingi kota, entah sekadar jalan-jalan, atau untuk mencari inspirasi. Tak sekali pun dua kali aku disapa,
"Kak Dugong!"
"Eh, ada Kak Dugong yang jago buat puisi itu, lho!"
Minimal kenali nama asliku! Jangan seenak jidat panggil dugong dugong! Aku punya nama, tahu! Ternyata begini ya rasanya jadi selebriti, orang-orang akan memanggilmu dengan sebutan yang tenar di sosial media.
Yang tadinya biasa aja, sekarang aku kesal.
"Aku Senda Diwa! Bukan Dugong!"
—Fin.
OMAGAAAAAA. HOW TO PINNED THIS IN MY MIND FOREVER NOW.
BalasHapusnangisbangetgwsumpah
BalasHapusEmang boleh secocwit ini, Wayne?
BalasHapus