Pesawat Kertas
AKU duduk bersila di atap gedung tua—warnanya putih berbentuk segi empat—membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajah, menggoyangkan rambutku yang kusut, sembari ditemani langit senja. Klakson dan teriakan menggema ke penjuru kota, ramai sekali, namun di dunia kecilku yang hanya seluas lantai atap dan langit tak berujung, aku sendiri.
Kulipat kertas usang yang menguning di tangan menjadi sebuah bentuk—pesawat kertas. Ini bukan pertama kalinya, sebab, potongan kertas warna-warni telah berserakan di lantai atap tempatku duduk. Sebagian ditiup angin dan menghilang entah ke mana, sebagian menetap dan terinjak oleh sepatu kotorku.
Yang kubuat adalah pesawat nomor seratus sembilan puluh tujuh, dan di sayap kirinya kutuliskan, "Aku rindu."
Tak ditujukan kepada siapa-siapa secara spesifik. Mungkin untuk ibu, yang sejak tujuh tahun lalu hanya tinggal nama. Atau mungkin untuk diriku yang dulu, sebelum seluruhnya berubah menjadi asing dan sunyi.
Sejak pertama kali aku menerbangkan pesawat kertas, aku ketagihan. Bukan, bukan karena mengharap jawaban. Tapi karena aku ingin merasa didengar meski hanya oleh langit. Pada awalnya, aku menuliskan, "Halo, langit. Apa kau bisa bicara?"
Kubiarkan pesawat yang kubuat mengudara, terombang-ambing, meluncur turun perlahan, lalu menghilang di balik dinding gedung. Hilang. Seperti biasanya.
Aku memeluk lutut, menatap ke langit barat seraya memperhatikan bagaimana matahari mengucapkan selamat tinggal sebelum bersua sapa dengan bulan. Gedung-gedung mulai menghidupkan pencahayaan, kota yang awalnya ramai perlahan sunyi karena jam pulang kerja telah usai.
Tak lama setelah pesawat kertasku lepas landas dan hilang dari pandangan, aku mendengar suara gesekan. Pelan, tapi aku yakin tak berhalusinasi. Seperti suara kertas yang menggores aspal.
Kutolehkan pandanganku ke belakang, sebuah pesawat kertas mendarat sekitar dua meter dari tempatku duduk. Bukan milikku, warnanya berbeda. Jingga, seperti warna langit sebelum malam datang menjemput.
Aku berdiri, melangkahkan kakiku mendekat, lalu mengambilnya. Kubuka perlahan pesawat kertas itu, kemudian menemukan dua kata yang tertulis di sana, "Aku juga."
Nafasku tercekat.
Aku kembali membentuk pesawat kertas itu, lalu membongkarnya lagi. Tak ada nama pengirimnya sama sekali. Tak ada petunjuk. Satu-satunya yang tersisa hanyalah dua kata yang membuat dadaku terasa sesak. Apakah aku terlalu berharap?
Esoknya, aku kembali menuliskan kalimat yang lebih panjang di pesawat kertasku, kali ini nomor seratus sembilan puluh delapan, "Siapa kamu? Apa kamu juga di atap?"
Kulempar. Lalu aku menunggu, dan terus menunggu.
Lalu, tak lama jawabannya datang bersamaan dengan langit sore hari yang berubah mendung. Pesawat kertasnya lebih kecil dari kemarin, seperti kertas bekas buku kotak matematika. Bertuliskan, "Aku di seberang, lantai lima, gedung tua juga."
Mataku langsung saja mencari, menoleh ke kanan kiri, lalu atas bawah walaupun sebenarnya tak mungkin. Tak ada gedung yang terlalu mencolok. Tapi semuanya tampak punya atap, seperti yang kududuki saat ini.
Hari berikutnya, aku mencoba sesuatu yang lebih gila. Kukirim pesawat nomor seratus sembilan puluh sembilan sambil berdiri di tepi atap dan berteriak ke angin, "Lihat ini!"
Di pesawat itu kutuliskan, "Kalau kamu bisa lihat aku, lambaikan tangan."
Tak lama, di kejauhan, sebuah tangan mungil diangkat tinggi-tinggi dari atap seberang. Mataku membelalak, terkejut sekaligus heran. Seseorang ternyata benar-benar ada di sana. Seseorang yang juga mengirim pesawat kertas. Seseorang yang juga merasa sendiri. Sepertiku.
Namanya Rain. Kuketahui namanya dari pesawat ke dua ratus. Ia suka menulis cerita, mendengarkan lagu klasik, dan takut gelap. Katanya, menulis di kertas dan menerbangkannya membuatnya merasa lebih ringan. Lebih hidup.
Kami berdua saling berkirim pesan setiap sore lewat pesawat kertas. Kadang ia mengirim puisi. Kadang aku membalas dengan lelucon konyol. Hari-hari terasa kurang tanpa itu. Dunia kecilku kini memiliki satu bintang.
Namun suatu ketika, Rain tidak membalas.
Kukirim tiga pesawat. Empat. Lima. Dan tak ada satupun yang kembali.
Di atap seberang, pun, tak ada tanda-tanda. Tak ada sedikitpun bayangan gadis kecil yang melambai. Tak ada pula kertas beterbangan. Hanya langit yang terlalu biru, yang selalu menjadi saksi bisu di setiap peristiwa.
Keesokan harinya, aku memberanikan diri, atau lebih tepatnya, nekat. Kupaksa masuk ke gedung seberang. Naik tangga darurat yang berdebu. Lantai lima. Atap.
Kosong.
Hanya satu hal yang tertinggal, sebuah kotak sepatu kecil warna cokelat, diikat pita merah, dan ditutup rapat-rapat. Di dalamnya, terdapat gulungan kertas. Satu per satu, perlahan kubuka. Itu semua pesawat-pesawat yang pernah kulempar di masa lampau. Dilipat kembali. Disimpan. Diurutkan. Pula diberi tanggal.
Di atas kotak sepatu, ada satu surat terakhir. Seperti biasa, tulisan Rain selalu rapih dan apik. Aku suka. Namun, kali ini aku benci tulisan Rain. Sebab, ia menulis, "Maaf aku harus pergi lebih cepat. Tapi kamu membuat hari-hariku terasa seperti langit senja, cantik dan menenangkan. Terima kasih, kawan."
Beberapa minggu telah berlalu sejak terakhir kali aku melihat Rain. Dan, hari ini, aku duduk bersila lagi di atap gedungku. Masih ditemani langit sore yang akan menghilan beberapa menit lagi. Kertas-kertas di sekelilingku masih berserakan. Tapi aku menyimpannya lebih rapi sekarang.
Aku terus melipat. Pesawat nomor dua ratus dua belas baru saja selesai kubuat. Seperti biasanya, aku menyelipkan secuil kalimat, "Untuk langit, dan untuk semua yang pernah kesepian. Aku di sini."
Kemudian kulempar. Langit, seperti biasa, menjawab dengan angin. Aku kembali sendiri lagi, tetapi tak sedingin kala aku belum bertemu Rain. Waktu dan memori singkat dengannya akan selalu kutanam dalam benak, sebagai bukti bahwa aku, pernah, tak merasa sendiri.
—Fin.
Komentar
Posting Komentar