Lantunan Gereja Tua
DESA ini pernah berada di puncak kemakmuran—kaya akan sumber mata air, berbagai hasil perkebunan, pun sawah yang selalu panen di setiap musimnya. Gereja Tua yang berada di kawasan desa menjadi daya tarik wisatan karena bangunannya yang cukup besar dan berperan aktif di masyarakat. Tak hanya untuk acara keagamaan, Gereja Tua ini seringkali digunakan pula oleh warga untuk berlindung bersama bilamana terdapat musibah yang melanda.
Hingga sepuluh tahun yang lalu.
Yang makmur kini hancur akibat sengketa lahan oleh anak kepala desa dan warga. Tanah ini sepatutnya milik bersama, namun anak sang kepala desa menuntut kepemilikan lebih luas karena merasa telah menjaga desa dengan baik. Para wisatawan pun dipalaki dengan embel-embel uang kunjungan wisata saat berkunjung ke Gereja Tua. Seluruh kekacauan ini bermula ketika kepala desa meninggal dunia akibat sakit, yang secara tak langsung membuat putra laki-lakinya menjadi penerus.
Pertikaian fisik maupun cuap-cuap warga menyelimuti desa sepanjang hari. Setidaknya tiga kali dalam sehari, teras rumah kepala desa dilempari tanah liat. Tapi apa peduli, protes warga dihiraukan, masuk kuping kiri keluar kuping kanan selagi bisnis wisata ke Gereja Tua masih berjalan.
Jemaat yang awalnya melimpah ruah hampir satu desa kini tak sebanyak itu lagi, bahkan bisa dihitung jari termasuk anggota pelayanan itu sendiri. Sisanya? Hanya wisatawan norak yang FOMO dan pastinya hanya menumpang untuk swafoto dan merekam.
Masyarakat desa semakin gencar memaki-maki anak kepala desa karena manajemennya yang berantakan. Beberapa dari mereka bahkan pernah menggerebek rumah serta menuntut untuk segera menghentikan bisnis eksploitasi Gereja Tua itu serta turun jabatan. Tetapi dengan backingan anggota polisi, eksploitasinya masih berjalan.
Dirasa tak didengar, yang kini ramai menjadi sunyi karena banyak keluarga memutuskan untuk meninggalkan desa tersebut. Para warga setiap pagi biasanya akan menyapu halaman rumah mereka beserta jalan-jalan setapak di sekitarnya, namun karena mereka pindah, lambat laun, jalanan desa menjadi kotor akibat wisatawan kerap kali membuang sampah sembarangan. Karena manajemen anak kepala desa yang buruk pula, kondisi kotor di sepanjang desa tak teratasi—berujung bisnisnya bangkrut karena tren turun dan sekeluarga pindah ke kota lain.
Tahun demi tahun berlalu, hingga tidak ada sesiapa pun meninggali rumah-rumah di desa itu. Sebuah desa asri tempat banyak warga saling berbagi suka duka kini ditinggalkan dan terbengkalai, rumput liar tumbuh di mana-mana, sarang laba-laba terukir di plafon rumah, hingga mata air yang dulu selalu mengalir deras kering kerontang.
Akankah Gereja Tua itu bernasib sama? Tidak. Natal akan segera tiba, anggota pelayanan dan jemaat yang tersisa mulai menghias interior dalam dan luar—lahan sekitar gereja. Gereja Tua ini terasa seperti di alam yang berbeda jika dibandingkan dengan desa yang mengelilinginya.
Tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang merengek. Seluruh aktivitas dilakukan secara bahu membahu dengan hati yang lapang serta rasa kekeluargaan.
"Bill, ayo, sebentar lagi mulai!"
Senyum terpatri di wajah sang empunya nama. Ia meregangkan kedua lengannya usai mengangkut beban-beban berat, lalu melangkah masuk ke dalam ranah gereja, "Semuanya sudah? Jadi tukar kado, kan?"
"Jadi, kok. Semuanya sudah ada di dalam. Setelah ibadah, kita tukar kado. Lalu setelahnya ... kita bakar-bakar di halaman gereja dan makan bersama."
"Tukar kadomu dengan milikku, Vaelynne. Aku naksir bukunya."
"Curang, tidak boleh."
"Yah, nggak seru."
Bulan kian meninggi, sementara Gereja Tua itu terselimuti canda dan tawa sesiapa pun yang hadir di dalamnya. Berbagai acara berlangsung dengan khidmat dan lancar—ibadah, tukar kado, hingga makan bersama. Natal tahun ini memang tak mewah, namun justru menjadi salah satu yang paling istimewa, jauh dari hiruk-pikuk duniawi. Meski telah melewati beragam masalah, Gereja Tua itu tetap melantunkan melodi yang menyatukan setiap jiwa yang memilih untuk tinggal.
—Fin.
Komentar
Posting Komentar