Wherever You Go, I Follow
CAKRAWALA ditantangnya dengan lancang, mana peduli jika benar-benar murka hingga nyawa melayang hanya dengan sekali sambaran. Satu bulan telah berlalu semenjak berlangsungnya perang dalam memperebutkan daerah kekuasaan bagian Selatan—atau lebih tepatnya, kawasan di mana Segel Suci tertanam jauh di dalam perut bumi.
Tak ingin mengalah, bahkan ada pihak yang rela menyewa berbagai macam pembunuh bayaran semata-mata sebab ingin menjadi pemilik dari Segel Suci seutuhnya. Eksistensinya dinilai lebih berharga dari jutaan nyawa dan hanya dapat aktif sekali dalam kurun waktu seribu tahun.
Rumor menyebar bahwasanya Segel Suci dapat membuka portal dimensi lain dan membawa makhluk fananya ke dunia nyata. Fungsinya tak lain dan tak bukan yakni untuk memperkuat pertahanan militer suatu negara. Satu kesalahan saja, seluruh dunia akan diguncang kiamat.
Manusia-manusia tamak itu tak pernah tahu apa arti kata berhenti. Pada dasarnya pula, manusia tersusun atas ego dan nafsu yang tingginya melebihi langit ciptaan Tuhan.
Beberapa negara telah membuat aliansi, termasuk Desa Konoha—dengan keempat negara besar lainnya. Untuk sementara, mereka mengungguli medan perang meski pertumpahan darah dan korban masih berjatuhan.
“Samuel.” Salah seorang ninja amatir menyerukan namanya, membuat sang pemilik mengalihkan pandangan untuk memberikan atensi penuh pada pembicara.
“Ya?”
Ia melanjutkan kalimatnya sembari tergopoh, “Kau sudah dengar? Ninja yang berada di garda depan mulai meluruh, sepertinya aliansi mereka lebih besar dari yang kita kira.”
Dengusan napas tak terelakkan, Samuel membenarkan posisi pengikat kepala berlambang identitas Desa Konoha sebelum kemudian melompat turun dari dahan pohon, “Jadi, tugas ninja elite dimulai tak lama lagi, itu maksudmu?” yang segera disahut oleh anggukan.
Bungkam, Samuel beranjak pergi, bergabung dalam medan peran dan berusaha untuk memutar balikkan keadaan. Sisi rasionalnya mengatakan perang ini sampah, karena pada dasarnya mereka telah jatuh dalam lingkaran api ketamakan yang takkan pernah padam bahkan hingga ke generasi-generasi selanjutnya.
Namun kenaifan menepisnya dengan mudah, Samuel berpartisipasi dibalik kata melindungi rekan. Melihat penggalan-penggalan mayat rekan maupun musuh di setiap sudut jalanan sudah membuat muak; tubuh yang termutilasi hingga organ dalamnya tercerai-berai, tubuh yang mati dengan mata terbelalak, hingga tubuh yang menjadi debu akibat dilahap panas dan ganasnya api dari pihak oposisi.
Segel Suci benar-benar malapetaka besar.
Perang dilakukan tanpa henti, lengah sedikit saja maka hilang nyawamu! Samuel pula mendapatkan beberapa luka; luka bakar di sepanjang betis hingga kaki, luka sayatan katana dan kunai di punggung dan telapak tangan, dan beberapa lebam pada bagian perut serta wajah.
Aliansi Desa Konoha dibagi menjadi beberapa tim untuk menjalankan strategi dan taktik yang sebelumnya direncanakan. Seluruhnya terdapat sekitar dua puluh lima tim, dengan masing-masing tim beranggotakan sepuluh ninja. Dan Samuel, berada di tim lima belas.
Dua belas tim akan bergantian untuk maju ke garda depan setiap enam jam sekali atau sampai posisi sudah diputarbalikkan, dan sisanya, menjaga tenda medis jika amit-amitnya terjadi penyergapan.
Kepulangan tim Samuel dari garda depan disambut dengan ucapan terima kasih sekaligus kecekatan tim medis yang langsung turun tangan untuk mengobati ninja-ninja yang terluka akibat perang.
Samuel sendiri tidak begitu peduli, amarah masih berapi-api dalam hati dan benaknya karena tak seluruhnya bisa ia selamatkan. Sampai kemudian tepukan tegas di pundak membuat pandangannya mengacir, “Séirnier ....”
Pria jangkung dengan masker wajah tersebut hanya mengulas senyum tipis yang tampak dari matanya, “Hei, tak perlu marah begitu, kau sendiri tahu apa konsekuensi dari perang ini.”
Pernyataannya benar, namun tetap saja Samuel benci situasi ini. Selagi tak memperhatikan, Séirnier mengambil pergelangan tangan kanan Samuel untuk dibilasnya dengan botol berisi air bersih yang tergantung di sabuk pinggang, lalu membalutnya dengan kain perban untuk menjaganya tetap steril, “Obati lukamu dan beristirahat sampai giliranmu tiba, kita jauh dari kata usai.”
Ucapan ninja elite sekaligus seniornya itu membuat Samuel malas untuk memperdebatkan isi hatinya. Diakhiri dengan anggukan, Samuel lantas melangkahkan kaki menuju tenda medis untuk menerima pengobatan lebih lanjut.
Wajah cemberut Samuel tampak jelas melalui kedua netra Séirnier, itu menghibur. Séirnier beranjak ke arah sebaliknya untuk bersiap terjun ke garda depan, “Peter Samuel, pastikan kau tak mati di pertarungan selanjutnya.”
Mendengarnya, Samuel hanya bergumam kecil lalu masuk ke dalam tenda medis, “Semoga keselamatan selalu menyertaimu, Séirnier ....”
Setelah seluruh luka terbalut, Samuel memutuskan untuk kembali berjaga di dahan pepohonan seperti sedia kala. Pikirannya tercampur aduk; sedih karena rekannya tewas, khawatir dengan rekan yang tengah berada di garda depan, marah karena ia tak bisa banyak membantu, juga jauh dari kata sabar karena ingin cepat-cepat mengakhiri perang.
Samuel menepis segala bentuk skenario dalam benaknya, berusaha untuk kembali fokus pada Perang Memperebutkan Segel Suci Bodoh ini. Kembalilah ia menentang cakrawala, seolah mengatakan bahwa, “Hei! Aku akan menang! Lihat saja!”
Dalam waktu istirahatnya, Samuel dan rekan-rekan lain membasmi beberapa penyusup yang berusaha untuk menghabisi ninja-ninja medis agar mereka kehabisan tenaga kerja untuk mengobati ninja yang terluka. Semuanya berjalan lancar, hingga salah satu dari kubu aliansi Desa Konoba membelot.
Pihak mereka berhasil membunuh sekitar lima ninja medis dan empat ninja amatir, membuat amarah Samuel lagi-lagi tersulut, “Bajingan kau!”
Cacian Samuel hanya mengundang tawa mereka. Seluruh ninja yang bersiaga berada tepat mengelilingi tenda medis sedangkan Samuel dan timnya berhadapan langsung dengan para komplotan pembelot.
Rupanya, pihak oposisi membayar mereka dengar harga yang tinggi untuk memecah aliansi Desa Konoha dari dalam, yakni melalui pengkhianatan. Dan tentunya membuat situasi ricuh secara instan.
Pertarungan kembali berlangsung tanpa ampun! Samuel dengan suasana hatinya yang tidak stabil mengambil beberapa langkah ke depan, melewati kroco-kroco untuk menargetkan ketua komplotan tersebut.
Mereka diketuai dua pria paruh baya; yang satu dapat bergerak dengan lincah dan yang satunya memiliki kekuatan yang bisa dibilang besar. Bahkan, Samuel sendiri kesulitan untuk melibasnya sendiri.
Luka bakarnya kembali terbuka sekaligus dengan tambahan beberapa lebam yang terukir di tubuh Samuel hingga pakaiannya compang-camping. Bising suara katana dan kunai melengking di antara riuhnya malam bulan purnama, memicu adrenalin kedua belah pihak untuk melindungi apa yang menjadi tujuan mereka sedari awal.
Samuel lengah disaat ninja lainnya tengah fokus pada para pembelot, mengakibatkan Samuel menerima beberapa luka tusukan di perut dan pahanya.
“Sudah kubilang, menyerah saja. Kau tak suka perang, bukan? Maka relakan Segel Suci pada kami, niscaya perang ini akan terhenti,” ujar sang ketua dengan tubuh besar itu berusaha menghasut.
Samuel hanya menanggapinya dengan gelak tawa meski wajahnya babak belur, "Hahaha! Lucu sekali! Meski kami kalah, garda depan takkan pernah kalah.”
Tarikan tangan pada rambut Samuel membuatnya mendangak, bersitatap dengan pemimpin satunya, “Oh? Séirnier Northen Burg, yang dijuluki Kartu AS dari Konoha itu, ya? Mana tahu dia sudah mati di sana! Hahaha!”
“Kekalahan yang ironi. Desa Konoha berada di ujung tanduk, mengapa kau tak berlutut dan memohon ampun saja?” lanjutnya.
Perasaan frustasi memenuhi benak Samuel hingga gertakan giginya terdengar, “Kami akan menang.”
Mereka kembali tertawa dengan angkuh sebelum kemudian salah dua rekan aliansi Desa Konoha menyayat lengan kedua pemimpin tersebut untuk membebaskan Samuel dari cekatannya.
“Samuel! Pergi ke garda depan untuk memperingati semuanya tentang para pembelot!”
Tak perlu pengulangan kalimat, Samuel memforsir tulang dan otot kakinya untuk berlari di antara pepohonan menuju garda depan perang, melewati tubuh demi tubuh tumbang yang dijumpainya.
Samuel butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk benar-benar sampai, yang dipikirkan menjadi kenyataan, seluruh medan perang adalah kolam darah. Prioritas Samuel yang utama adalah untuk membantu serta memberitahu mereka mengenai insiden di tenda medis.
Beruntungnya, aliansi Desa Konoha unggul di garda depan. Samuel menoleh ke sana ke mari mencari senior yang tak kunjung terlihat batang hidungnya. Seakan tahu, salah satu rekannya berucap, “Senior ada di bangunan utama.”
Mendengarnya, Samuel mengerutkan kening. Entah bodoh atau justru jenius, Séirnier terlalu nekat untuk masuk ke dalam bangunan utama. Segel Suci berada jauh di bawah tanah, dilindungi berlapis-lapis lantai yang merangkap menjadi suatu bangunan tinggi untuk melindungi segel tersebut.
Karena kondisi garda depan telah teratasi, Samuel menerobos masuk menuju bangunan utama. Karena sedari kecil sudah bersama, Samuel hafal betul seluk-beluk pikiran Séirnier.
Lapisan demi lapisan ruangan ia lalui tanpa hambatan karena para musuh telah dikalahkan seniornya, namun itu justru membuat rasa cemasnya memuncak. Karena ia tahu, sangat tahu, alih-alih mengambil Segel Suci, Séirnier pasti akan menghancurkannya.
Tepat saat Samuel mencapai lantai dasar, dengan tergopoh digemakannya nama sang senior, “Séirnier!”
Di seberang, Séirnier telah memegang Segel Suci, digenggamnya dengan nyata, membuktikan bahwa eksistensinya benar-benar ada. Ia melantunkan tawa kecil, “Aku seniormu, mana sopan santunnya?”
Samuel membalas dengan gertakan gigi, “Beri aku segelnya.”
“Ambil saja, sini.”
“Aku takkan termakan tipu dayamu lagi.”
Karena pada dasarnya Séirnier tipe yang memegang teguh suatu tindakan, tak mungkin akan menyerahkan Segel Suci itu pada Samuel apapun alasannya.
Séirnier membuat alibi, diputar-putarkannya Segel Suci itu di udara sembari mengutarakan, “Garda depan perlu tenaga kerjamu, bantu mereka.”
Samuel memutar kedua bola matanya malas, melangkahkan kaki tergesa untuk mengikis jarak antar keduanya, “Lalu meninggalkanmu mati bersama dengan hancurnya segel Itu? Aku tahu segel itu membutuhkan korban agar bisa hancur.”
Kesalahan terbesar Séirnier adalah meninggalkan buku-buku peninggalan kuno di tempat yang dapat dengan mudah dibaca oleh Samuel. Dari sanalah ditemukan bahwa, Segel Suci, tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun. Begitu terlepas, maka kekuatannya akan meluluhlantakkan bumi hingga hancur lebur tak bersisa.
Perangai Séirnier yang tenang ini membuat emosi Samuel semakin tersulut, perangai seniornya yang tak pernah mengatakan apa-apa ini membuatnya frustasi. Lambat laun Samuel pun kehilangan kemampuan untuk berbicara.
Sang ninja elite kebanggaan Desa Konoho itu melirik Segel Suci yang berada di genggaman tangannya, “Samuel, tugasku adalah untuk melindungi generasi selanjutnya—yang tak lain adalah generasimu. Jadi, tolong ....—”
“Tidak.”
“Samuel ....—”
“Tidak.”
“Dengar ....—”
“Tidak.”
“.... Sampai kapan kau akan bersikap egois?”
“Sampai aku bisa mendaratkan pukulan di wajahmu, senior.”
Gelak tawa kembali tercipta dari belah bibir Séirnier, juniornya sungguh sangat menghibur, “Ini bukan kewajibanmu.”
Samuel kembali menentang, “Ini juga bukan kewajibanmu.”
Séirnier menghela napas panjang sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, merepotkan sekali berurusan dengan bocah egois sepertinya, “Masa depanmu masih panjang.”
Yang dapat disaksikan hanya kedua mata Samuel yang memutar malas, “Memang kau tidak?”
“Aku sudah tua.”
“Tapi kau masih tampan.”
“Hm?”
Samuel berdecih angkuh, “Maksudku, kau bahkan belum menikah. Paling tidak menikahlah dahulu, baru kau mati.”
Senyum tipis terukir di balik masker wajah Séirnier tanpa sepengetahuan Samuel. Tak lagi melanjutkan pembicaraan, ia membuat segel dengan tangannya, bersiap untuk menghancurkan Segel Suci.
Samuel yang tidak terima memutuskan untuk membuat segel tangan kedua lalu menyatukannya dengan milik Séirnier. Akhir dari perjalanan ini adalah kematian, dan hal tersebut tak dapat terelakkan. Kematian ini bukan sekadar pengorbanan sia-sia, sepantasnya dirayakan dengan megah.
Segel Suci melayang di antara kedua segel yang telah tercipta, perlahan menimbulkan retakan bersamaan dengan bangunan utama yang fondasinya mulai roboh. Samuel tak berkecil hati, terdapat kebanggaan tersendiri baginya untuk menyelamatkan dunia bersama dengan Séirnier.
Sembari segel tercipta dan Segel Suci perlahan hancur, Séirnier menautkan jemarinya dengan Samuel, membuat sumpah pertama sekaligus terakhirnya, “Aku akan menikahimu di alam baka, Samuel.”
Kalimatnya membuat Samuel tertawa terbahak-bahak bahkan hingga menitikkan air mata seiring tubuh keduanya menghilang, menyatu dengan butiran debu dan puing-puing bangunan yang membuat jejak mereka takkan pernah lagi ditemukan.
Even when the world near its ending, I wannabe by your side.
Even when I see nothing, I wannabe close to you.
Even when I lose all my sense, I wannabe with you.
Wherever you go, I follow.
—Fin.
Komentar
Posting Komentar