Penghujan di Awal Tahun

Kisah ini dibuat tanpa tujuan, namun bukan berarti tak bermakna. Dan sebagai permintaan maafku, yang mungkin t'lah sedikit mengacau. Duhai insan indah di sana, maukah kau simak teater kecil yang kubuat untukmu? Maukah kau ikut menghayati setiap lantunan kata dan menikmati suasananya bersamaku?

Manusia diciptakan bukan tanpa adanya celah, itu hal yang pasti. Kadangkala kita tak tahu; kapan kita harus berpikir rasional? Kapan kita harus mengikuti kata hati? Gundah tiada henti hanya akan membawamu dalam kegelisahan tak berarti, apa aku salah?

Katanya, disetiap musibah ada hikmahnya, namun bagaimana kalau tidak? Bahkan, setelah kau memilih jalan yang kau anggap benar, mengapa kini rasanya hampa? 

Ketahuilah bahwasanya semua itu wajar-wajar saja. 

Awal tahun baru saja dimulai, hujan mengguyur bentala setiap hari, bahkan hanya sekadar untuk membiarkan genangan air di jalan raya menguap, ia tak mampu.

Biar saja .... Ini imbalan yang pantas setelah musim panas berkepanjangan tahun lalu.

Dan kini, kembali lagi pada jiwa terbelenggu yang ingin diselamatkan. Kilat netranya tersorot seolah minta pertolongan, kasihan sekali. Mana tega membiarkannya begitu saja?

“Rumah nyaman ini rasa neraka! Rumah nyaman ini didiskriminasi mentang-mentang bangunannya berada di ujung jalan! Rumah ini reyot dan tak layak huni!”

Gilbert Zaveerie, bilamana kau dengar seruan ini, berlarilah sejauh mungkin. Tinggalkan rumahmu sebelum tubuhmu hancur ditimpa bangunan, tinggalkan segalanya sebelum pola pikirmu menggila.

Tak apa, tak ada yang menakutkan. Hanya sebuah petualangan kecil yang akan membawamu menuju rumah yang baru, hanya sebuah petualangan kecil yang akan mengajarimu untuk lebih mengasihi diri sendiri.

Pada akhirnya, kau sendirilah yang harus menghadapi. Pada akhirnya, kau sendirilah yang memilih jalan nasib. Pada akhirnya, kau sendirilah yang bisa menyelamatkan diri sendiri.

Biarlah hujan menutupi tangismu kali ini, namun tidak lain kali. Harap-harap dengan ini, gundahmu dapat terobati.

Kau perlu tahu, bahwa ...

We were here, to build you home.


—Fin.

Komentar

Postingan Populer